Dan.. inilah esai pertama setelah lama tertidur... (Sebenarnya esai ini ingin ku post bulan April biar masih ada hangat-hangatnya bulan Kartini, tapi karena terkendala beberapa faktor jadi bisanya di bulan Mei. hmmm...)
Dan inilah esai pertama setelah "tertidur" cukup lama...
Perempuan Penyelamat Ekonomi
Keluarga
“Kami
berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri, menolong
diri sendiri, dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat
menolong orang lain.” Potongan kalimat dari surat Raden Ajeng Kartini kepada
Ny. Abendanon tersebut telah menjadi pengingat bagi diri sendiri sebagai
seorang perempuan bahwa kita harus tangguh dalam menghadapi apapun. Dewasa ini,
telah banyak perempuan yang menunjukkan kemampuannya dalam ranah publik
sehingga menjadi perhitungan bahwa perempuan layak dan pantas untuk
mengembangkan diri. Tetapi tidak sedikit juga perempuan yang masih mengalami
represi akan keterlibatannya dalam ranah publik. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya
beberapa faktor seperti faktor sosial dan budaya.
Faktor
budaya sering kali menjadi dasar terkuat adanya represi untuk perempuan
mengembangkan diri. Budaya yang sering dianggap memberikan sedikit ruang kepada
perempuan yaitu budaya yang menggunakan sistem patriarki. Salah satu contoh yaitu
budaya Madura. Masyarakat Madura memandang dan memposisikan
perempuan sebagai bagian keluarga yang harus dilindungi, dipelihara, dan simbol
perjuangan laki-laki untuk memupuk harga diri di depan masyarakat, sehingga
perempuan ditempatkan pada ruang yang suci dan terpisah dari ranah laki-laki[1]. Selain
itu, masyarakat Madura dikenal sebagai bentuk masyarakat yang masih menjunjung
tinggi tradisi dan menempatkan religiusitas sebagai kewajiban. Tidak terkecuali
masyarakat Madura yang berada di Kabupaten Banyuwangi, di pesisir selatan Muncar,
masyarakatnya di dominasi oleh suku Madura.
Masyarakat
Madura di pesisir selatan Muncar sebagian besar kaum laki-lakinya berprofesi
sebagai nelayan, sejalan seperti masyarakat suku Madura yang menetap di pulau
Madura bahwa mereka (orang Madura) pada dasarnya lekat dengan masyarakat
hidraulis[2],
sehingga menjadikan masyarakat suku Madura yang menetap di Muncar melanjutkan
serta memanfaatkan laut sebagai ladang rejekinya. Hal tersebut menjadikan
adanya pembagian kerja berbasis seksual dalam masyarakatnya dimana kaum
laki-laki bekerja menjadi nelayan dan kaum perempuan hanya mengurus rumah. Bekerja
sebagai nelayan tidak selalu menjamin kebutuhan mereka terpenuhi karena adanya
faktor alamiah yang berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan ikan[3].
Adanya faktor tersebut mengakibatkan kebutuhan rumah tangga tidak terpenuhi.
Dari hal tersebut kaum perempuan terdesak dan ingin bekerja keras untuk turut
membantu mencari nafkah agar pemenuhan kehidupan sehari-hari mereka terpenuhi.
Peran perempuan disini untuk turut andil mencari nafkah tidak serta-merta
mendapatkan ijin dari laki-laki atau suaminya. Mereka (perempuan) harus
terlebih dahulu menyatakan dan mendiskusikan hal tersebut dengan suami mereka.
Hal tersebut dilatar belakangi oleh adanya tradisi yang mendapatkan penguatan
dari agama dan kebudayaan dalam masyarakatnya dimana
masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi keberadaan agama karena agama bagi
masyarakat Madura tidak hanya diterapkan dalam aspek religi dan
ritual, namun juga sebagai ajaran perilaku, aktivitas sosial, budaya, ekonomi
serta relasi sosial masyarakat.
Perempuan
nelayan Muncar memilih pekerjaan sebagai buruh harian di sebuah pabrik atau
industri pengalengan ikan. Mereka (perempuan) memilih pekerjaan tersebut karena
menurut mereka dengan menjadi buruh harian merupakan salah satu cara tercepat
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Selain hal tersebut, adanya faktor
pendidikan dan keterampilan membuat mereka tidak dapat memilih pekerjaan lain
selain menjadi buruh. Mereka (perempuan) bekerja seharian penuh dari pagi
sampai sore, namun jika mereka
membutuhkan upah lebih, mereka mengambil lembur. Mereka rela bekerja lembur
hingga pukul 8-9 malam. Mereka juga mendapatkan ‘perlakuan istimewa’ dari pihak
industri dimana mereka mendapatkan upah secara langsung atau setiap hari
setelah mereka mengakhiri pekerjaan mereka. Dari pihak industri melakukan hal
tersebut karena mereka (pihak industri) mengetahui bahwa mereka (perempuan) bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
rumah tangga karena suami mereka yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan
tidak sedang bekerja akibat cuaca buruk dan minimnya ikan di lautan. Dalam hal
ini perempuan telah menyelamatkan ekonomi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari mereka. Terlepas dari pekerjaan mereka, sebagai perempuan mereka
tetap harus menjadi seorang “istri dan ibu yang baik” setelah kembali dari
bekerja karena perempuan lebih mengutamakan fungsinya di sektor domestik,
meskipun memiliki pekerjaan di sektor publik.
Masuknya
perempuan nelayan di ranah publik dengan bekerja menjadi buruh harian,
membuktikan adanya keterbukaan ruang keadilan bagi perempuan dalam membantu
ekonomi keluarga. Dari hal tersebut secara tidak sadar, masyarakat nelayan Muncar
telah terbuka dengan adanya pembagian peran baru dan menerima bahwa istri mereka
dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama. Namun
dengan berbagai perkembangan perempuan Madura di ranah publik, nilai patriarki
dapat direduksi walaupun masih belum mampu menghapus pengaruhnya pada individu
perempuan Madura. Selain itu, pemerintah
Banyuwangi seharusnya juga dapat memperhatikan dan membangun pemberdayaan
perempuan Madura di pesisir Muncar dengan memberikan pendidikan gender di
lingkungan masyarakat secara langsung, misalnya dengan membentuk
kelompok-kelompok yang memberikan pelatihan berupa keterampilan kerja yang
bersifat kreatif dan inovatif.
keywords: Perempuan, Gender, Banyuwangi
[1] Hidayati, Tatik. 2009. “Perempuan Madura Antara Tradisi Dan
Industrialisasi.” Karsa Volume XVI(No. 2).
[2] Dikutip dari laman lipi.go.id dengan judul “Budaya Madura:
Bertahan dengan Identitas yang Terselip”, diakses pada tanggal 2 April 2018.
[3] Kusnadi. 2002. Konflik Sosial
Nelayan. Yogyakarta: LkiS. Hlm. 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar